Tak Berkategori

Kebangkitan Islamophobia: Dari Eropa Ke Asia

0 0
Spread the love
Read Time:2 Minute, 25 Second

Kasus Islamofobia di Eropa kian memburuk selama dua tahun terakhir. Gerakan politik sentris dan arus utama di Benua Biru dinilai turut melegitimasi penargetan Muslim dengan dalih memerangi ekstremisme. Hal itu disampaikan laporan bertajuk European Islamophobia Report 2020 yang disusun Enes Bayrakli dan Farid Hafez. Wajah Presiden Prancis Emmanuel Macron muncul pada sampul muka laporan tentang Islamofobia di Eropa tersebut.

Bayrakli adalah profesor hubungan internasional di Turkish-German University yang berbasis di Istanbul. Sementara Hafez adalah ilmuwan politik dari Georgetown University’s Bridge Initiative. Penyusunan laporan ini didukung the International Islampohobia Studies and Reserach Association, the Othering and Belonging Institute di University of California, Center for Security, Race, and Rights di Rutgers University, dan the International Islamophobia Studies.

Bayrakli mengungkapkan pelecehan terhadap Muslim di dunia maya mengalami peningkatan signifikan. “Ini mengkhawatirkan karena narasi daring tidak tetap daring dan dapat menciptakan iklim serangan fisik terjadi di dunia nyata,” ujarnya.

Dalam laporan 2020, misalnya, Bayrakli dan Hafez menemukan banyak berita palsu atau hoaks yang mendiskreditkan Muslim. Narasi yang dibangun antara lain masjid sebagai vektor Covid-19 dan aturan penanganan pandemi diterapkan lebih lunak terhadap Muslim karena kekhawatiran dianggap rasialis.

Hafez menguraikan kasus-kasus Islamofobia yang terjadi di sejumlah negara Eropa. Jerman secara keseluruhan telah mendokumentasikan lebih dari 31 ribu kasus kejahatan kebencian. Sebanyak 901 di antaranya merupakan kasus ujaran kebencian dan aksi anti-Muslim.

Prancis mencatatkan 1.142 kasus kejahatan kebencian. Korban dari 235 kasus di antaranya adalah Muslim. “Jadi, daripada menyarankan bahwa kejahatan rasial terhadap Muslim lebih banyak terjadi di Jerman daripada di Prancis, orang lebih cenderung mempertanyakan seberapa serius otoritas kepolisian Prancis mendokumentasikan kejahatan rasial secara umum,” kata Hafez.

Muslim di Austria juga menghadapi tahun yang sulit. Di negara tersebut, kasus Islamofobia meningkat dua kali lipat menjadi 812 insiden. Pemerintah di sana dinilai turut terlibat dalam melembagakan Islamofobia.

Di Prancis, usai insiden Charlie Hebdo, menurut European Islamophobia Report (EIR) sentiment anti-Islam meningkat 500 persen. Seperti gayung bersambut, di Jerman, kelompok Pegida alias Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West menyitir ada upaya sistematis, terukur, dan masif untuk mengislamkan Eropa, dan berusaha mengganti nilai-nilai luhur kebudayaan Eropa dengan Islam. Mereka juga menyebut Muslim sebagai penyebab munculnya berbagai kekerasan dan kriminalitas yang terjadi.

Di India, sistem politiknya juga bergeser ke kanan, ditambah dengan sejarah permusuhan panjang Muslim versus Hindu, membuat minoritas Muslim dimarginalkan. Bahkan, Pemerintah India sudah melegitimasi diskriminasi atas kelompok Muslim lewat UU Kewarganegaraan yang membuka izin menjadi warga negara untuk seluruh pemeluk agama, kecuali Muslim.

Kasus terbaru yang sempat viral dalam pemberitaan dunia adalah kasus penolakan terhadap jilbab di India.Rupanya Islamophobia yang tumbuh di Eropa, kini mulai berkembang di Asia. Melihat berbagai kasus penindasan terhadap umat Islam itu, sepertinya kekerasan sistemis atas kelompok Muslim selalu terjadi. Baik ketika arah ideologi politik mengarah ke kiri-kirian seperti di Prancis atau ke kanan-kananan seperti di Swedia, Jerman, Amerika, India, dan berbagai negara lain. [Sumber: Republika Online]

*) Dikutip dari Majalah Tabligh edisi Maret 2022

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Anda mungkin juga suka...

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *