Tak Berkategori

KEMENANGAN TALIBAN : DUKUNGAN DAN MASA DEPAN

0 0
Spread the love
Read Time:5 Minute, 39 Second

Kedutaan Rusia di Kabul pada Senin (16/8/2021) mengungkapkan bahwa Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari Kabul dengan membawa empat mobil penuh dengan uang, sebagaimana diwartakan oleh kantor berita negara Rusia RIA Novosti.

Ashraf Ghani sempat diklaim telah meninggalkan Kabul pada hari Ahad ketika Taliban mengusai ibu kota Afghanistan. Laporan berbagai media menyatakan bahwa Ghani pergi ke Tajikistan atau Uzbekistan. Namun, selang dua hari, Ashraf Ghani menyangkal klaim yang menyatakan dia pergi membawa banyak uang, Rabu (18/8). Dalam pelarian usai Taliban menguasai ibu kota Afghanistan, Kabul, dia mencari perlindungan di Uni Emirat Arab (UEA).

Ghani menyatakan alasannya meninggalkan Kabul adalah untuk mencegah pertumpahan darah. Dia dengan tegas membantah laporan bahwa membawa sejumlah besar uang saat meninggalkan istana kepresidenan.

DUKUNGAN

Gerakan Islam Palestina HAMAS, yang menguasai Jalur Gaza, Palestina segera mengucapkan selamat kepada Taliban pada hari Senin (16/8/2021) atas kemenangan Taliban di Afghanistan.

“Kami mengucapkan selamat kepada orang-orang Muslim Afghanistan atas kekalahan pendudukan Amerika di semua tanah Afghanistan. Kami mengucapkan selamat kepada gerakan Taliban dan kepemimpinannya yang berani atas kemenangan ini sebagai puncak dari perjuangan panjangnya selama 20 tahun terakhir,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir The New Arab.

Besebrangan dengan HAMAS, Kelompok Islamic State (IS/ISIS) dilaporkan telah menyatakan Taliban murtad setelah keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan, seperti dikutip dari The New Arab, Sabtu (21/8/2021).

Dilaporkan Arabi21, dalam edisi terbaru surat kabar resmi milik Islamic State (IS/ISIS), Al-Naba, IS/ISIS menuduh Taliban telah menerapkan hukum islam secara tidak sempurna selama era kekuasaan mereka sebelumnya di Afghanistan antara tahun 1996 dan 2001. ISIS bahkan mengecam kelompok Islam Palestina Hamas karena memberi selamat kepada Taliban dan bertemu dengan pemimpinnya Mullah Baradar.

Sementara itu, petinggi Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan bahwa mereka harus berbicara dengan Taliban sesegera mungkin setelah Taliban dianggap memenangkan  perang di Afghanistan. Namun, Josep Borrell tegaskan bahwa dialog tidak menyiratkan pengakuan formal pemerintahan baru Taliban oleh Brussel dalam waktu dekat ini.

“Taliban telah memenangkan perang. Jadi kita harus berbicara dengan mereka, untuk terlibat dalam dialog sesegera mungkin untuk mencegah bencana kemanusiaan dan migrasi potensial, tetapi juga krisis kemanusiaan,” katanya dalam konferensi pers Selasa malam (17/8/2021).

Sebelumnya, Senin di kawasan, Iran menyatakan dukungannya untuk pembentukan pemerintah inklusif di Afghanistan. Menurut kantor berita semi-resmi Mehr, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan pada konferensi pers mingguan bahwa Teheran mengikuti perkembangan di negara tetangganya, Afghanistan.

“Kami berhubungan dengan semua pihak di Afghanistan,” kata Khatibzadeh, menambahkan bahwa Iran siap untuk memfasilitasi pembicaraan damai intra-Afghanistan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Minggu berdiskusi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengenai krisis yang terjadi di Afghanistan. Kedua pemimpin juga membicarakan pentingnya kerja sama dengan masyarakat internasional untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban dan untuk memastikan bahwa evakuasi berlanjut tanpa insiden serius.

“Hari ini PM berbicara kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tentang krisis di Afghanistan. Mereka membahas pentingnya masyarakat internasional untuk bekerja sama untuk menstabilkan situasi dan mendukung warga Afghanistan di negara itu dan di kawasan itu,” kata Downing Street dalam sebuah pernyataan.

“Keduanya berpandangan bahwa setiap pemerintahan baru harus mewakili populasi Afghanistan yang beragam dan melindungi hak-hak perempuan dan minoritas, serta Taliban akan dinilai berdasarkan tindakan mereka, bukan kata-kata mereka,” tambah mereka.

Boris Johnson dan Erdogan juga sepakat bahwa negara-negara harus berkomitmen untuk berbagi beban dalam menampung pengungsi dan memberi bantuan setelah Taliban berkuasa.

Erdogan juga melakukan percakapan telepon dengan Pemimpin Rusia, Vladimir Putin. Kedua pemimpin membahas isu-isu regional, terutama langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan Turki-Rusia dan perkembangan di Afghanistan, menurut sebuah pernyataan oleh Direktorat Komunikasi Turki. Erdogan menekankan bahwa Turki menginginkan transisi yang mulus di Afghanistan.

Duta Besar Rusia untuk Afghanistan, Dmitry Zhirnov, memuji sikap Taliban sejak pengambilalihan kekuasaan bahkan menyebut tak ada alternatif selain kelompok tersebut di sana. Saat diwawancarai Reuters dari Kabul melalui Zoom, Jumat (20/8), Dmitry Zhirnov mengatakan situasi keamanan di ibu kota Afghanistan tersebut kini lebih baik dibanding sebelum direbut Taliban. Tanggapan Zhirnov yang bernada positif ini bertolak belakang dengan sejumlah politisi Barat dan kelompok pemerhati hak asasi manusia.

MASA DEPAN AFGHANISTAN

Taliban mengiginkan pemerintahan Islam berlaku di Afghanistan, pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Suhail Shaheen selaku bagian dari tim perunding Taliban yang berada di Qatar kepada BBC pada Ahad (15/8/2021).

“Kami menginginkan pemerintahan Islam yang inklusif, itu berarti semua warga Afghanistan akan menjadi bagian dari pemerintahan itu,” kata Shaheen.

Menepis kekhawatiran bahwa negara itu akan kembali ke hari-hari gelap versi hukum yang ultra-konservatif kelompok itu, Shaheen mengatakan bahwa Taliban malah akan mencari “babak baru” dalam toleransi.

“Kami ingin bekerja dengan warga Afghanistan mana pun, kami ingin membuka babak baru perdamaian, toleransi, koeksistensi damai, dan persatuan nasional untuk negara dan untuk rakyat Afghanistan,” katanya.

Wanita di Afghanistan akan diizinkan untuk bekerja dan menempuh pendidikan hingga tingkat universitas, kata juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, Selasa (17/8/2021).

Berbicara kepada Sky News Inggris, Suhail Shaheen mengatakan ribuan sekolah terus beroperasi setelah Taliban mengambil alih ibu kota Afghanistan pada hari Ahad. Jatuhnya Kabul membuat sebagian wanita Afghanistan khawatir akan masa depan mereka di bawah kekuasaan pemerintah Islam.

Shaheen mengatakan: “Tentu saja, kami berkomitmen untuk hak-hak perempuan, untuk pendidikan, untuk bekerja, dan untuk kebebasan berbicara, sesuai dengan aturan Islam.” jawabnya.

Seorang politikus senior Afghanistan dan aktivis perdamaian telah meminta masyarakat internasional dan kekuatan regional memberikan kesempatan kepada Taliban memerintah Afghanistan demi perdamaian dan stabilitas.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Fazl Hadi Wazin, yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden tahun lalu, mengatakan ada harapan perdamaian di negara yang lelah perang dan aktivitas terorisme itu.

Menurut dia, mengisolasi pemerintah Taliban berarti mengabaikan negara berpenduduk 35 juta orang dan “menggiring negara itu kembali ke terorisme”. Perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa Afghanistan berada di “persimpangan jalan”.

Wazin, yang juga seorang guru besar di Universitas Kabul, berpendapat bahwa “Taliban 2.0” sangat jauh dari sosok mereka sebelumnya, yang dilihat dunia pada 1996 hingga 2001. Dia mengklaim bahwa pemimpin politik Taliban belajar banyak dalam 20 tahun terakhir dan telah beradaptasi dengan perubahan karena masyarakat Afghanistan telah berkembang secara dramatis selama periode waktu yang sama.

“Dua puluh tahun silam, hanya ada tiga atau empat universitas di Afghanistan. Sekarang ada lebih dari 100 universitas swasta dan ribuan alumni universitas. Ada banyak perubahan positif di Afghanistan, salah satunya ialah generasi muda di Afghanistan yang melek internet dan aktif di media sosial,” jelas Wazin.

Politikus itu mendesak masyarakat internasional menguji Taliban daripada menolak mereka mentah-mentah. Menurut Wazin, sikap Taliban kini lebih terbuka terhadap fotografi, video, dan media massa. Mereka kini bisa menyerap kritik.

Taliban juga berupaya menunjukkan sikap longgar terhadap perempuan Afghanistan, Taliban sudah berjanji mengizinkan mereka bekerja, memperoleh pendidikan, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Semoga kelompok Taliban dan masyarakat Afghanistan memiliki masa depan cerah dalam menerapkan syariat Islam. [red/dbs]

*) Dikutip dari Majalah Tabligh edisi September 2021

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Anda mungkin juga suka...

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *