Delegasi Taliban, yang dipimpin Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi, dan para perwakilan masyarakat Afghanistan mengadakan diskusi sepanjang hari pada Ahad (23/1) di Oslo. Perundingan itu dipusatkan pada krisis kemanusiaan yang kian memburuk di Afghanistan.
Pertemuan tertutup itu berlangsung di sebuah hotel di pegunungan yang tertutup salju di atas ibukota Norwegia. Momen ini merupakan pertama kalinya perwakilan Taliban mengadakan pertemuan resmi di Eropa sejak kelompok itu mengambil alih pada Agustus. Pembicaraan ini menyalakan kembali perdebatan mengenai apakah mereka melegitimasi pemerintah Taliban, terutama sejak mereka ditahan di Norwegia.
Usai pertemuan hari pertama, delegasi Taliban Shafiullah Azam mengatakan pertemuan dengan pejabat Barat adalah langkah untuk melegitimasi pemerintah Afghanistan. “… komunikasi ini akan membantu komunitas Eropa, Amerika Serikat, atau banyak negara lain untuk menghapus gambaran yang salah tentang pemerintah Afghanistan,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Norwegia Anniken Huitfeldt sebelumnya telah menekankan bahwa pembicaraan itu bukan legitimasi atau pengakuan terhadap Taliban. Selain itu, 200 pengunjuk rasa berkumpul di lapangan es di depan Kementerian Luar Negeri Norwegia di Oslo untuk mengutuk pertemuan dengan Taliban, yang belum menerima pengakuan diplomatik dari pemerintah asing mana pun.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS, delegasi AS, yang dipimpin oleh Perwakilan Khusus untuk Afghanistan Tom West, berencana untuk membahas pembentukan sistem politik perwakilan, tanggapan terhadap krisis kemanusiaan dan ekonomi yang mendesak. Kemudian pembahasan masalah keamanan dan kontraterorisme, serta hak asasi manusia, terutama pendidikan untuk anak perempuan dan perempuan.
Seperti dilansir France24, dalam kunjungan pertama mereka ke Eropa sejak kembali berkuasa pada Agustus lalu, Taliban akan bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Uni Eropa, dan Norwegia.
Diskusi tertutup, yang difasilitasi oleh Norwegia, diadakan di Soria Moria Hotel, di puncak bukit bersalju di luar Oslo. Selain itu, delegasi Taliban juga akan bertemu dengan aktivis hak-hak perempuan dan pembela hak asasi manusia dari Afghanistan dan dari diaspora Afghanistan.
Perundingan diperkirakan akan fokus pada situasi kemanusiaan Afghanistan, yang telah memburuk secara drastis sejak Agustus lalu, ketika Taliban kembali berkuasa setelah digulingkan 20 tahun silam.
Di lain pihak, Menteri Luar Negeri Norwegia Anniken Huitfeldt mengatakan 39 juta rakyat Afghanistan kewalahan dengan keruntuhan ekonomi, pandemi Covid-19 dan banjir.
“Satu juta anak-anak mungkin meninggal dunia karena kelaparan bila bantuan tidak sampai ke tangan mereka tepat waktu dan mungkin tahun ini sekitar 97 persen populasi secara tak terduga jatuh ke bawah garis kemiskinan,” katanya.
Negara Skandinavia yang menjadi rumah bagi Hadiah Nobel Perdamaian ini tidak asing dengan diplomasi. Norwegia telah terlibat dalam upaya perdamaian di sejumlah negara, termasuk Mozambik, Afghanistan, Venezuela, Kolombia, Filipina, Israel-Palestina, Suriah, Myanmar, Somalia, Sri Lanka, dan Sudan Selatan. [MRH/dbs]
*) Dikutip dari Majalah Tabligh edisi Februari 2022